Salam Jurnalistik !
Jalanan menuju bandara Polonia sedikit terganggu pagi itu. Kemacetan terjadi di seputar wilayah SMA Negeri 2 Medan. Samping kiri dan kanan Jalan Karang Sari Nomor 435 itu dipenuhi dengan kendaraan roda empat, bahkan deretan kendaraan itu memenuhi halaman parkir masjid sabilillah yang ada di depannya. Hal ini sangat tak wajar, mengingat hari itu adalah hari minggu (31/1). Aktivitas belajar mengajar tentu diliburkan. Lalu, ada apakah gerangan ?
Tulisan yang terdapat di dalam papan bunga yang digelar sepanjang pagar bagian luar sekolah mempertegas keadaan. Ada sebuah hajatan besar yang dilakukan minggu pagi itu. Sebuah kegiatan yang tentunya menjadi fokus perhatian seluruh alumni SMA Negeri 2 Medan yang ingin menikmati kembali salah satu fase kehidupan yang kini menjadi sebuah kenangan indah yang tersimpan di dalam memori.
Beberapa hari yang lalu, riuh keramaian terjadi di Facebook. Mereka yang dahulu pernah bersekolah di SMA Negeri 2 Medan saling taut-mentautkan pesan di situs jejaring sosial itu kepada sesama alumni lain yang mereka kenal untuk menghadiri reuni nostalgia yang sebentar lagi akan dilaksanakan. Rencana akan diadakannya reuni ini memang menjadi tren pembicaraan yang hangat di dunia maya.
Mewujudkan rencana itu menjadi nyata. Ya, itulah yang ada di dalam benak panitia penyelenggara reuni ini. Tak tanggung-tanggung, mereka melobi beberapa sponsor untuk menyemarakkan kegiatan. Ada luckydraw yang menawarkan berbagai hadiah pelayanan jasa, ada games yang bisa mewadahi anak – anak alumni untuk bermain, ada pula penampilan band yang cukup menghibur para undangan, atau foto grup yang bisa dijadikan kenang-kenangan. Bahkan, konsep kegiatan juga berupa aksi sosial, seperti sunatan masal dan donor darah.
Namun, makna dari kegiatan ini yang sebenarnya adalah terjalinnya siaturahmi yang telah lama terputus. Sahabat lama yang sudah lama tak berjumpa, dapat dipertemukan kembali pada sekolah yang menjadi awal pengikat tali persahabatan mereka. Orang-orang yang dahulu berkutat dengan pena dan catatannya, kini kembali lagi membawa kesuksesan serta sanak keluarga.
Masa SMA, memang masa yang paling indah. Segala kenaifan masa kecil yang sedikit terusik dengan optimisme pandangan akan masa depan terjadi pada fase itu. Mungkin sebagian orang mengingatnya sebagai sebuah awal kesuksesannya dalam karir karena berbagai ilmu keorganisasian dapat diperoleh ketika SMA. Sebagian lainnya mungkin mengingat masa SMA sebagai sebuah masa, dimana belajar adalah segalanya. Tiada hal lain yang dilakukan selain belajar, belajar, dan belajar. Bahkan, sebagian lainnya mengingat masa SMA sebagai masa dimana ia dipertemukan untuk yang pertama kali, dengan “dia” yang kini mengisi hari-hari kehidupannya.
Waktu memang terus berputar, tiada yang dapat mengembalikan masa-masa itu lagi. Kini berbagai kenangan yang tersisa, menguapkan rindu yang haus terobati. Reuni nostalgia bermaksud mengobati rasa rindu itu. Tapi, setiap insan yang hadir ketika itu pasti memiliki pikiran yang sama untuk menyatakan bahwa, beberapa jam yang mereka lalui dalam reuni itu, bukannya menghilangkan rasa rindu, melainkan justru semakin menambahnya. (Redaksi)
Editorial minggu 1 Februari 2010